Saya memarkir mobil di tanah depan rumah yang di sampingnya ada kuburan. Sejenak saya tertegun. Bagi saya, kuburan adalah sebaik-baiknya tempat mengingat mati. Dan mestinya penghuni rumah sebelah kuburan ini adalah orang-orang baik yang selalu bersiaga dengan kematian.
Setelah mengucapkan salam di rumah yang dekat kuburan itu, keluarlah seorang pria separuh baya dengan beberapa anak yang menyertainya. Pria sederhana dengan banyak anak. Eiits, itu bukan anak beliau. Itu anak asuh Panti Asuhan Darul Qolbi. Panti asuhan yang didirikan pria itu.
Memang pertama saya kaget dan galau dengan beberapa tato di tubuhnya. Apa betul ini pria yang mau saya temui? Ternyata memang benar dan galau itu sirna setelah saya mendengar banyak cerita dari pria paruh baya itu.
Pak Pri, saya mengenalnya dengan sebutan Pak Pri Beruntung. He he keren ya pake embel-embel beruntung. Ingatan saya kembali pada tokoh musuh donal bebek yaitu si untung bebek wakwakwak.
Pak Pri adalah pendiri Panti Asuhan Darul Qolbi. Seorang mualaf dan mantan preman kampung daerah Semarang yang bertobat setelah menikah. Awal karir beliau adalah menjadi office boy di sebuah bank pemerintah. Setelah dua tahun bekerja, Pak Pri naik pangkat menjadi seorang debt collector yang dia jalani selama 8 tahun di tiga bank ternama.
Pak Pri kemudian pindah ke Jogjakarta. Di Jogja pun, Pak Pri bekerja sebagai debt collector juga tapi hanya sebentar karena beliau mempelajari hukum riba. Pak Pri memang ingin sekali mengubah hidupnya menjadi orang yang sholih. Beliau juga membakar semua jimat-jimat kekuatan yang dimilikinya.
Jadilah Pak Pri membuka warung soto. Pak Pri mulai bermimpi untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi yang lain. Beliau ingin membuat panti asuhan! Sebuah cita-cita yang mulia. Menurut Pak Pri, panti tidak hanya dibuat oleh orang yang mampu aaja. Tapi dengan keyakinan kepada Allah yang Maha Kaya, apapun bisa terjadi termasuk impian Pak Pri.
Selama 2,5 tahun mengumpulkan uang plus ditambah beberapa bantuan dari teman-temannya, tanah bisa terbeli dan pondasi bisa terbangun.
Bagi Pak Pri, dengan yakin kepada Allah, apa saja yang diinginkan pasti terpenuhi. Banyak keajaiban yang beliau rasakan dengan menyerahkan masalah kepada Allah. Ingin motor, Pak Pri berdoa di showroom dan terbelilah motor. Ingin mobil, Pak Pri juga berdoa di showroom dan taraaa mobil didapatnya.
Sebenarnya bukan hanya karena berdoa saja, Pak Pri mendapat apa yang dia inginkan. Tetapi karena usaha dia menjadi orang yang manfaat. Pak Pri menerima anak-anak yang yatim, piatu, dhuafa dan yang dibuang orang tuanya. Beliau juga menyantuni anak yatim yang di luar panti. Tidak hanya menerima sedekah tapi juga mengirim sedekah seperti sedekah air di daerah Gunung Kidul.
Yang lebih mengagumkan, panti asuhan Pak Pri tidak hanya menerima santunan dari orang-orang saja, tetapi lebih dari itu, Beliau menciptakan ekonomi yang mandiri. Dalam pemikirannya, jika dia sudah meninggal, panti akan tetap jalan dengan usaha yang telah dirintis dari sekarang.
Wakaf sawah, berternak kambing sebanyak 22 ekor dan pemodalan alat-alat pertukangan. Semua itu adalah kerja keras yang dilakukan Pak Pri.
Ingin tahu apa semboyan Pak Pri?
"Sukses itu bukan itu bukan milik orang kaya saja, tapi milik orang yang beruntung. Orang beruntung itu karena ridho dari Allah semata karena amal sholih, panennya pasti sukses. Bermimpilah sebesar mungkin, jangan takut jadi orang besar dan bersandarlah pada Allah yang Maha Besar."
Peternakan kambing Darul Qolbi
Salam hangat dari kami anak Darul Qolbi






