Senin, 16 April 2018

Beringin di Samping Jalan Rumahku


Pohon Beringin di samping jalan rumahku itu, memang sangat besar. Perlu lima orang dewasa yang berpegangan tangan, untuk memeluk Beringin itu. Bisa ditebak, berapa usia pohon itu?

Ketika aku lahir, Beringin itu sudah berdiri kokoh. Sosoknya terlihat sombong, angkuh tapi terlihat seperti yang dituakan. Mirip ketua RT-nya para pohon. Tetapi ybaang membuat aku tidak bisa lepas memikirkan pohon itu Beringin terlihat…Angker!

Aku selalu takut bila lewat di depan Beringin itu. Dunia seperti menjadi lebih gelap saat bayangan Beringin menutupi permukaan tanah. Bukan itu saja, Aku sangat yakin ada banyak makhluk gaib yang menunggui pohon Beringin itu. Saat berada di dekat Beringin, Aku merasa makhluk-makhluk itu keluar menyambut dengan seringai yang lebar dengan banyak gigi taring. Iiih menyeramkan!

“Assalamualaikuuum!” Teriakku  mendorong pintu ruang tamu dengan keras. Aku berlari mencari Ibu dan berhenti di dapur. “Ibuuuuu!” Kutabrak Ibu yang sedang mencuci sayuran.

“Ada apa sayang?” Terlihat Ibu begitu terkejut setelah tanganku erat tidak terlepas dari pinggangnya.

Tangannya yang lembut menggandengku ke kursi makan. “Ayo, minum air ini dulu, Aisyah.” Ibu menyodorkan segelas air bening di hadapanku.

Napasku masih satu-satu, ketika Ibu mulai bertanya lagi. “Ayo Aisyah, ada apa? Kenapa kamu ketakutan, Nak?”

“Ibu, kenapa sih, Beringin itu enggak ditebang saja? Aku takut!”

“ Memang Aisyah lihat apa, kok bisa ketakutan seperti ini?” Ibu mengulangi lagi pertanyaannya

“Aisyah…Aisyah…Enggak lihat apa-apa, Ibu. Pohonnya aja seram seperti kakek-kakek berjenggot panjang yang mau ambil Aisyah kemudian disimpan di dalam pohon” Aku menjelaskan sambil menangis.

“Aisyah! Tahukah kamu. Kalau Beringin itu memang banyak penunggunya. Eits jangan  salah mengerti, penunggunya juga makhluk hidup seperti kita loh! Ada burung, tupai, kepik atau bahkan ular.”

“Jika Aisyah merasa takut, bayangkan yang indah-indah saja dari sebuah pohon ya, Nak. Pohon itu bisa menghisap racun yang dikeluarkan oleh kendaraan seperti gas karbondioksida dan mengeluarkan udara segara seperti oksigen. Coba bayangkan kalau pohon beringin ini ditebang, dimana hewan-hewan itu akan tinggal? Sedihkan?” Ibu melanjutkan.

“Pohon Beringin itu sangat berarti bagi kita, Aisyah. Yang menanam pohon ini, Insya Allah pasti banjir pahala dari Allah karena manfaat pohon itu yang dirasakan banyak makhluk. Ketika Aisyah takut dengan makhluk gaib dari pohon itu, ingat ya, Nak, kalau dunia kita dengan dunia gaib itu berbeda. Kita tidak bisa memasuki dunia mereka dan sebaliknya.” Ibu membelai rambut Aisyah dengan lembut. 

Tahukah Aisyah, biasanya kalau ada pohon Beringin, pasti disitu ada mata air yang menemani. Hebatkan? Jadi bagaimana, Aisyah? Apa masih takut dengan pohon Beringin itu? Masih ingin menebangya? Apa tidak kasihan dengan makhluk yang ada di dalam pohon itu? Ibu menegaskan kembali.

Pelan-pelan aku memegang tangan Ibu,  “Ternyata, Beringin tetap pohon yang baik hati ya, Bu. Sekarang Aisyah malah takut kalau Beringin  itu enggak disitu lagi, pasti jalan itu jadi panas, hiii enggak banget deh.”

Membayangkan Beringin menghilang sungguh membuatku begidik…

#kelasmenulisceritaanak





Tidak ada komentar:

Posting Komentar